Review Operasi Pesta Copet, Heist Anak Skena yang Seru meski Kurang Menggigit

 ⭐3/5

Ada satu ketakutan universal yang hampir selalu muncul saat datang ke festival musik: HP hilang.

Mau menikmati musisi favorit, tapi tangan sesekali masih harus memastikan ponsel aman di kantong. Berangkat dari keresahan yang sangat dekat dengan penonton konser Indonesia tersebut, Edy Khemod justru mengubahnya menjadi premis film panjang pertamanya sebagai sutradara, Operasi Pesta Copet.

Dibintangi Iqbaal Ramadhan, Kristo Immanuel, Zulfa Maharani, Kawai Labiba, hingga Fauzan Lubis, film produksi Imajinari ini mengikuti empat orang yang nekat menjadikan Pestapora sebagai lokasi operasi pencopetan mereka.

Premisnya terdengar seperti film heist. Namun setelah menontonnya, Operasi Pesta Copet ternyata jauh lebih menarik ketika menjadi film tentang persahabatan dan kehidupan anak muda kelas bawah yang bersinggungan dengan skena musik, ketimbang saat berusaha menjadi film kriminal penuh ketegangan.

Peringatan: review ini mengandung sedikit spoiler ringan.

1. Premis heist-nya sederhana, tetapi terasa sangat Indonesia

dok. Imajinari/Operasi Pesta Copet

Ijal (Iqbaal Ramadhan) sedang berada di titik hidup yang gak menyenangkan. Kehilangan pekerjaan dan terdesak kebutuhan ekonomi membuatnya harus mencari berbagai cara untuk mendapatkan uang.

Bersama sahabatnya, Adut (Kristo Immanuel), Ijal bahkan sempat bekerja menjadi badut sebelum akhirnya berkenalan dengan Silet (Fauzan Lubis).

Dari Silet, keduanya mulai mengenal dunia pencopetan.

Namun, film ini gak menggambarkan nyopet sebagai perkara asal mengambil HP dari kantong orang. Ada tahapan dan pembagian peran seperti “ngalih”, “mutus”, “nadah”, hingga “ngambang”.

Ijal kemudian melibatkan Tia (Zulfa Maharani) dan Melodi (Kawai Labiba). Dari sini muncul ide yang jauh lebih ambisius: kalau mau mendapat banyak uang, kenapa gak sekalian beroperasi di tengah puluhan ribu orang yang sedang sibuk menikmati festival musik?

Pestapora pun menjadi target mereka.

Konsep tersebut membuat Operasi Pesta Copet terasa seperti film heist yang dibumikan ke realitas Indonesia. Gak ada brankas supercanggih, laser keamanan, atau peralatan ala Mission: Impossible.

Senjata utamanya justru kerumunan, kelengahan penonton, dan kemampuan membaca situasi.

2. Pestapora bukan tempelan, justru menjadi karakter tersendiri

dok. Imajinari/Operasi Pesta Copet

Kekuatan terbesar film ini ada pada dunianya.

Edy Khemod merupakan drummer Seringai dan kedekatannya dengan skena musik terasa di hampir setiap sudut film.

Kaos band, obrolan mengenai musik, moshing, wall of death, sampai bagaimana karakter-karakternya bergerak di tengah festival terasa seperti dibuat oleh orang yang memang memahami lingkungan tersebut.

Lebih menarik lagi, sebagian film benar-benar direkam saat Pestapora 2025 berlangsung.

Hasilnya terasa.

Ketika kamera mengikuti Ijal dan kawan-kawan masuk ke kerumunan, kita gak merasa sedang melihat sekumpulan figuran yang diperintahkan pura-pura menonton konser.

Ada ribuan orang, panggung yang benar-benar hidup, musisi yang tampil, suara yang berisik, hingga kekacauan festival yang sulit direplikasi lewat set.

Momen pencopetan pun menjadi lebih menegangkan karena kamera harus membuat kita mencari karakter di antara lautan manusia.

Pada titik tertentu, Operasi Pesta Copet malah terasa seperti kapsul waktu Pestapora 2025.

Buat yang pernah datang ke festival musik Indonesia, ada banyak detail kecil yang bikin mikir, “Nah, iya, memang begini rasanya.”

3. Kristo Immanuel diam-diam mencuri spotlight filmnya

dok. Imajinari/Operasi Pesta Copet

Iqbaal Ramadhan memang menjadi pemeran utama dan membawa sebagian besar beban dramatis sebagai Ijal.

Namun, orang yang paling gampang mencuri perhatian justru Kristo Immanuel sebagai Adut.

Adut adalah tipe karakter yang kelucuannya gak terasa seperti sedang menunggu giliran untuk melontarkan punchline.

Gestur, ekspresi, cara ngomong, sampai respons kecilnya terhadap situasi absurd sering kali sudah cukup membuat adegan menjadi lucu.

Chemistry Iqbaal dan Kristo juga bekerja dengan baik.

Hubungan Ijal dan Adut terasa seperti dua teman lama yang sudah terlalu nyaman satu sama lain. Mereka bisa saling mengejek dan melakukan hal bodoh, tetapi ketika situasi berubah serius, persahabatan keduanya tetap terasa punya bobot.

Zulfa Maharani dan Kawai Labiba kemudian membuat kelompok ini semakin komplet.

Hasil akhirnya membuat empat karakter utama tersebut lebih terasa seperti teman nongkrong beneran daripada empat karakter yang sengaja dikumpulkan karena plot membutuhkan sebuah “tim heist”.

Justru chemistry inilah yang membuat kita peduli ketika operasi mereka mulai berantakan.

4. Komedinya bekerja karena gak memaksa harus lucu setiap saat

dok. Imajinari/Operasi Pesta Copet

Operasi Pesta Copet juga cukup pintar mengontrol komedinya.

Film ini gak memperlakukan setiap dialog sebagai setup menuju punchline.

Banyak momen lucunya muncul secara situasional: karakter yang salah memahami budaya konser, kepanikan saat rencana gak berjalan sesuai harapan, sampai improvisasi kecil dari para pemain.

Makanya, ketika lelucon muncul, efeknya terasa lebih natural.

Film juga menggunakan format wawancara Ijal di kantor polisi sebagai perangkat untuk menceritakan kembali kejadian yang dialaminya.

Pendekatan semi-mockumentary ini memberikan warna berbeda, terutama pada bagian awal.

Meski demikian, gimmick tersebut juga bisa terasa mengganggu bagi sebagian penonton karena beberapa kali memotong momentum cerita. Ketika operasi di Pestapora akhirnya berjalan, film justru terasa lebih asyik saat membiarkan aksinya berbicara sendiri.

5. Sayangnya, sebagai film heist masih kurang menggigit

dok. Imajinari/Operasi Pesta Copet

Ini mungkin kelemahan terbesar Operasi Pesta Copet.

Setup-nya sebenarnya menjanjikan.

Kita diperkenalkan dengan teknik mencopet, pembagian tugas, latihan, target, sampai risiko kalau salah satu anggota tertangkap.

Masuk ke Pestapora seharusnya menjadi momen ketika seluruh persiapan tersebut dibayar lunas.

Dan memang ada beberapa adegan yang bikin waswas.

Masalahnya, film gak selalu berhasil mempertahankan ketegangan itu.

Dibandingkan menikmati kerumitan rencana pencopetannya, kita justru lebih sering menikmati interaksi antarkarakter dan kekacauan yang terjadi setelahnya.

Padahal konsep “Ocean's Eleven versi copet Pestapora” punya potensi besar untuk dieksplorasi lebih jauh.

Bisa saja ada strategi yang lebih rumit, kesalahan kecil yang menimbulkan efek domino, atau payoff dari teknik-teknik yang sebelumnya mereka pelajari.

Elemen-elemen tersebut ada, tetapi belum sampai membuat aksi heist-nya menjadi bagian paling memorable dari film.

Lucunya, film tentang operasi pencopetan ini justru paling berhasil ketika gak sedang membahas pencopetan.

6. Drama ekonominya membuat karakter gak sekadar jadi “penjahat”

dok. Imajinari/Operasi Pesta Copet

Film ini juga melakukan pilihan yang cukup menarik terhadap karakter-karakternya.

Ijal dan teman-temannya melakukan tindakan kriminal, tetapi cerita gak buru-buru meminta penonton menganggap mereka sebagai orang jahat.

Kita diperlihatkan kondisi ekonomi yang mendorong mereka sampai ke titik tersebut.

Ijal kehilangan pekerjaan. Adut menjalani pekerjaan yang jauh dari ideal. Ada utang, kebutuhan keluarga, sampai perasaan bahwa bekerja dengan cara “benar” pun belum tentu cukup untuk keluar dari masalah.

Namun, film juga gak sepenuhnya menjadikan kondisi tersebut sebagai pembenaran.

Semakin jauh Ijal menjalankan rencananya, semakin jelas bahwa keputusan yang awalnya lahir dari keterdesakan mulai membawa konsekuensi kepada orang-orang di sekitarnya.

Di sinilah Operasi Pesta Copet sebenarnya punya lapisan yang lebih menarik daripada sekadar komedi kriminal.

Film ini bicara tentang orang-orang yang berada di pinggiran pesta.

Ketika ribuan orang punya uang untuk membeli tiket festival, merchandise, makanan, dan menikmati hiburan, ada karakter seperti Ijal yang melihat kerumunan tersebut sebagai kesempatan untuk sekadar bertahan hidup.

7. Konflik personalnya justru lebih kuat daripada konflik kriminalnya

dok. Imajinari/Operasi Pesta Copet

Semakin mendekati akhir, fokus cerita perlahan bergeser dari “apakah mereka berhasil mencopet di Pestapora?” menjadi persoalan Ijal sendiri.

Hubungannya dengan keluarga, masa lalu, serta persahabatannya dengan Adut mendapat porsi emosional yang semakin besar.

Di satu sisi, keputusan tersebut membuat Ijal terasa lebih manusiawi.

Namun, di sisi lain, pergeseran fokus ini membuat payoff dari operasi besar yang sudah dibangun sejak awal terasa kurang nendang.

Setelah segala latihan, strategi, dan kekacauan di Pestapora, film seperti kembali kepada persoalan yang sebenarnya sudah ada sebelum operasi tersebut dimulai.

Inilah bagian yang kemungkinan paling membelah penonton.

Kalau sejak awal lebih tertarik dengan karakter dan dramanya, ending tersebut masih bisa terasa memuaskan.

Tapi kalau datang karena berharap melihat film heist dengan klimaks besar, penyelesaiannya mungkin terasa terlalu cepat kembali ke drama personal.

8. Operasi Pesta Copet lebih berhasil sebagai film tongkrongan anak skena

dok. Imajinari/Operasi Pesta Copet

Pada akhirnya, label “film heist” mungkin malah membangun ekspektasi yang sedikit keliru terhadap Operasi Pesta Copet.

Karena daya tarik utamanya bukan rencana pencurian yang genius.

Justru hal-hal kecil yang paling membekas: empat teman yang ngobrol ngawur, kaos band yang berseliweran, orang moshing, suara panggung yang bocor ke mana-mana, karakter yang bingung melihat budaya konser, hingga ribuan penonton Pestapora yang membuat layar terasa hidup.

Sebagai debut film panjang Edy Khemod, identitas tersebut terasa kuat.

Ia jelas tahu dunia apa yang ingin direkam.

Sayangnya, dunia yang sangat hidup itu belum sepenuhnya diimbangi oleh cerita heist yang sama kuatnya.

Untungnya, chemistry para pemain—terutama Kristo Immanuel—serta atmosfer festival membuat perjalanan Ijal dan kawan-kawan tetap menyenangkan untuk diikuti selama 113 menit.

Operasi Pesta Copet adalah film heist yang ternyata lebih asyik sebagai film persahabatan anak skena. Pencopetannya mungkin gak selalu berhasil mencuri perhatian, tapi Pestapora dan gengnya berhasil.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url