Review Resident Evil (2026), Adaptasi Game yang Akhirnya Terasa seperti Main Resident Evil

⭐3,5/5
Resident Evil kembali di-reboot. Namun, kali ini ada Zach Cregger, sutradara di balik Barbarian dan Weapons, yang mendapat kesempatan membawa franchise game horor Capcom tersebut kembali ke layar lebar.

Alih-alih mengadaptasi langsung salah satu game atau kembali menceritakan kisah Leon, Chris, Claire, dan Jill, Cregger mengambil keputusan yang cukup berani.

Ia menciptakan karakter baru bernama Bryan (Austin Abrams), seorang kurir medis biasa yang mendapat tugas terakhir untuk mengantarkan paket penting dari satu rumah sakit menuju rumah sakit lain di Raccoon City.

Masalahnya, perjalanan tersebut dilakukan malam hari di tengah badai salju. Bryan kemudian menabrak seorang perempuan misterius di jalan dan tanpa disadari masuk semakin dalam ke sebuah wabah mengerikan.

Premisnya sederhana. Namun, justru kesederhanaan itulah yang membuat Resident Evil versi Cregger bekerja.

Film ini gak terlalu sibuk menjelaskan lore. Ia lebih tertarik membuat penonton merasakan satu hal: gimana rasanya kalau orang biasa tiba-tiba dilempar ke dalam game Resident Evil tanpa tahu cara memainkannya.

1. Gak mengadaptasi gamenya, tapi justru terasa banget seperti main Resident Evil

dok. Sony Pictures

Keputusan paling tepat yang dibuat Zach Cregger adalah gak mencoba memasukkan cerita salah satu game Resident Evil ke dalam durasi sekitar 90 menit.

Film ini mengambil pendekatan berbeda.

Bryan pada dasarnya mempunyai satu misi sederhana: pergi dari titik A menuju titik B dan bertahan hidup.

Sepanjang perjalanan, ia masuk ke lokasi baru, menghadapi ancaman baru, menemukan senjata, kehabisan peluru, mencari jalan keluar, kemudian pindah menuju area berikutnya.

Sederhana, tapi familiar banget buat gamer.

Cara kameranya mengikuti Bryan dari belakang bahkan beberapa kali terasa seperti perspektif third-person dalam video game. Ada pula momen ketika sudut pandangnya berubah menyerupai pemain yang sedang membidik menggunakan senjata.

Untungnya, gimmick tersebut gak digunakan secara berlebihan.

Cregger lebih tertarik meniru pengalaman bermain survival horror dibanding sekadar memasukkan referensi.

Ada ruangan gelap yang bikin kita ragu buat masuk. Ada suara aneh yang sumbernya gak kelihatan. Ada monster yang susah mati sementara amunisi terbatas. Bahkan Bryan sendiri gak langsung berubah menjadi jagoan begitu memegang pistol.

Film ini tetap menyelipkan berbagai elemen yang bisa dikenali penggemar, termasuk Raccoon City, Umbrella Corporation, sampai beberapa benda yang identik dengan gamenya.

Namun, easter egg tersebut gak mengambil alih film.

Hasilnya cukup unik. Ceritanya hampir sepenuhnya original, tetapi sensasi menontonnya justru lebih mirip bermain Resident Evil dibanding sejumlah adaptasi yang mencoba mengikuti cerita gamenya.

2. Austin Abrams dan monster-monsternya jadi senjata utama

dok. Sony Pictures

Bryan juga bukan tipe protagonis yang biasanya kita temukan dalam Resident Evil.

Dia bukan polisi elite seperti Leon. Bukan tentara seperti Chris. Bukan anggota S.T.A.R.S. seperti Jill.

Bryan cuma kurir medis yang sedang mengalami hari paling sial dalam hidupnya.

Austin Abrams memainkan karakter ini dengan sangat menyenangkan. Bryan sering panik, salah mengambil keputusan, ngomel sendiri, dan terlihat seperti orang yang sama sekali gak dipersiapkan menghadapi kiamat zombie.

Justru itu yang membuatnya gampang disukai.

Ada sesuatu yang lucu ketika melihat seseorang yang pengetahuan senjatanya sebagian berasal dari video game kemudian harus benar-benar menggunakan pistol untuk melawan monster.

Cregger juga kembali memperlihatkan kemampuannya mencampurkan horor dan komedi.

Satu adegan bisa membuat kita tegang menunggu sesuatu keluar dari kegelapan, kemudian berubah menjadi absurd, lalu beberapa detik setelahnya memperlihatkan sesuatu yang menjijikkan.

Dan film ini memang jorok banget.

Zombienya cuma permulaan.

Semakin jauh Bryan mendekati Raccoon City, semakin aneh pula makhluk yang ditemuinya. Tubuh manusia menyatu, anggota badan bergerak dengan bentuk gak wajar, monster memuntahkan cairan, sampai berbagai mutasi yang desainnya terasa seperti mimpi buruk body horror.

Untungnya, kegilaan tersebut didukung visual dan sound design yang kuat.

Area bersalju pada awal film khususnya memberikan atmosfer yang menarik. Lingkungannya terasa sepi dan dingin, membuat kemunculan sesuatu dari kejauhan jauh lebih menyeramkan daripada sekadar mengandalkan jumpscare.

Kalau datang untuk melihat zombie, mutan, darah, body horror, dan manusia biasa yang berusaha mati-matian gak dimakan monster, film ini memberikan semuanya.

3. Seru banget, sayangnya ceritanya terlalu tipis

dok. Sony Pictures

Masalah terbesar Resident Evil justru muncul ketika kita berhenti menikmati kekacauannya dan mulai memikirkan ceritanya.

Karena ternyata memang gak banyak yang bisa dipikirkan.

Film sempat memberikan konflik pribadi kepada Bryan. Pacarnya sedang hamil dan meminta Bryan ikut menentukan masa depan hubungan serta calon anak mereka.

Bryan sendiri tampak belum siap menghadapi tanggung jawab tersebut.

Konflik ini sebenarnya punya potensi menarik.

Perjalanan Bryan untuk menghindari kematian bisa menjadi paralel dengan ketakutannya menghadapi tanggung jawab sebagai calon ayah. Apalagi film beberapa kali menempatkannya dalam situasi yang secara jelas bisa dihubungkan dengan tema tersebut.

Sayangnya, ide itu gak pernah digali terlalu dalam.

Film lebih suka buru-buru membawa Bryan menuju monster berikutnya.

Hal yang sama terasa pada bagian akhir. Setelah membangun perjalanan Bryan dengan sangat menyenangkan selama sebagian besar durasi, penyelesaiannya terasa sedikit terlalu cepat dibanding buildup sebelumnya.

Karakter pendukung juga gak mendapatkan ruang sebanyak Bryan.

Tapi kelemahan tersebut sekaligus datang dari kekuatan filmnya.

Resident Evil tahu persis ingin menjadi film seperti apa.

Ini bukan horor dengan lapisan psikologis sedalam Weapons. Bukan pula film yang ingin menjelaskan seluruh sejarah Umbrella Corporation.

Ini adalah survival horror berdurasi sekitar 90 menit tentang orang biasa yang harus melewati satu malam paling mengerikan dalam hidupnya.

Dan dalam urusan itu, Zach Cregger berhasil.

Setelah berbagai adaptasi Resident Evil mencoba menjadi film action zombie, mengikuti cerita game, atau membangun mythology sendiri, versi 2026 mengambil jalan yang jauh lebih sederhana.

Cregger gak berusaha membuat penonton menyaksikan Resident Evil.

Ia mencoba membuat penonton merasa sedang memainkannya.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url