Benarkah Copet di Konser Mulai Berkurang karena Harga Tiket Makin Mahal?

Datang ke konser dulu punya satu ritual tambahan yang gak tertulis di tiket: pegang HP erat-erat kalau sudah masuk kerumunan.

Cerita kehilangan HP saat konser atau festival musik bukan sesuatu yang asing. Bahkan fenomena ini sampai dijadikan premis film Operasi Pesta Copet, yang mengambil latar Pestapora dan bercerita tentang sekelompok anak muda yang mencoba mencopet di tengah festival musik.

Tapi belakangan muncul pengamatan yang cukup menarik di kalangan concertgoers: cerita soal copet di sejumlah konser berbayar mahal terasa gak seramai dulu.

Lalu muncul teori setengah bercanda yang terdengar masuk akal:

Harga tiket konser sekarang terlalu mahal, sampai copet pun mikir dua kali buat masuk.

Lucu memang. Tapi kalau dibedah, sebenarnya ada logika ekonomi di balik teori tersebut.

Meski begitu, perlu ditegaskan dari awal: belum ada data nasional yang membuktikan bahwa jumlah pencopetan di konser Indonesia benar-benar turun karena harga tiket naik. Bahkan sepanjang 2026 masih ditemukan kasus pencopetan di sejumlah acara musik. Jadi, ini lebih tepat dibaca sebagai analisis tentang bagaimana perubahan harga tiket, karakter penonton, dan sistem keamanan mungkin ikut mengubah "ekonomi per-copetan" di konser.

Tiket konser memang makin mahal

dok. Unsplash/Andy Li

Satu hal yang bukan sekadar perasaan adalah harga tiket konser yang memang semakin tinggi.

Penelusuran Tirto terhadap delapan konser internasional di Indonesia pada paruh kedua 2026 menemukan bahwa harga kategori termurah rata-rata sudah berada di kisaran Rp850 ribu-Rp900 ribu. Kategori premium bahkan bisa mencapai Rp7,5 juta.

Festival juga mengalami tren serupa.

Hammersonic misalnya, pernah menjual tiket sekitar Rp150 ribu-Rp200 ribu pada awal penyelenggaraannya. Pada 2024, tiket dua harinya sudah berada di kisaran Rp1,2 juta-Rp2,5 juta.

Data berbagai konser internasional pada 2024 juga memperlihatkan harga yang sudah relatif tinggi. Tiket NCT 127 misalnya berada pada rentang Rp1,05 juta-Rp3,35 juta, sementara Bruno Mars sekitar Rp950 ribu-Rp7,65 juta.

Penyebabnya gak cuma promotor ingin mencari untung lebih banyak.

Konser internasional membawa banyak biaya dalam mata uang asing, mulai dari honor artis, transportasi, logistik, produksi, sampai berbagai kebutuhan teknis. Pelemahan rupiah terhadap dolar kemudian ikut memberikan tekanan terhadap biaya penyelenggaraan.

Buat fans, konsekuensinya jelas: menonton konser sekarang membutuhkan modal yang jauh lebih besar.

Lucunya, kondisi ini mungkin juga berlaku buat orang yang masuk konser bukan untuk menonton konser.

Kalau tiket Rp1,5 juta, copet juga harus menghitung modal

Coba lihat dari sudut pandang pelaku.

Misalnya tiket festival dulu Rp300 ribu. Seorang pencopet membeli tiket dan berhasil mengambil dua smartphone. Secara kriminal, tentu saja menguntungkan.

Sekarang bayangkan tiket masuknya Rp1,5 juta.

Pelaku harus mengeluarkan Rp1,5 juta terlebih dahulu tanpa jaminan bakal mendapatkan barang apa pun. Belum ongkos perjalanan, makan, kemungkinan pemeriksaan keamanan yang semakin ketat, sampai risiko ditangkap.

Kalau datang sebagai kelompok, modalnya semakin besar.

Di sinilah harga tiket secara teori bisa menjadi semacam barrier to entry yang gak disengaja.

Bukan berarti pencopet gak punya Rp1 juta. Masalahnya lebih kepada perhitungan risiko dan keuntungan.

Kenapa harus membeli tiket Rp1,5 juta untuk masuk ke venue konser kalau pelaku bisa mencari kerumunan lain yang aksesnya jauh lebih murah atau bahkan gratis?

PRJ bisa menjadi contoh menarik mengenai bagaimana keramaian tetap menarik bagi pelaku kejahatan. Pada Juni 2026, sebuah aksi pencopetan ponsel di JIExpo Kemayoran terekam CCTV sampai polisi menggunakan digital forensic dan teknologi pengenal wajah untuk memburu pelakunya.

Secara sederhana, kalau tujuannya memang mencuri, kerumunan murah jauh lebih ekonomis dibandingkan kerumunan mahal.

Tapi konser mahal tetap bisa jadi “tambang emas”

dok. Unsplash/Noman Khan

Nah, teori tadi punya satu masalah besar.

Semakin mahal tiket sebuah konser, bisa muncul asumsi bahwa orang-orang di dalamnya mempunyai daya beli lebih tinggi.

Artinya, targetnya mungkin lebih menggiurkan.

Smartphone flagship, smartwatch, kamera, dompet, hingga berbagai barang mahal cukup umum dibawa concertgoers. Jadi, walaupun biaya masuk meningkat, potensi nilai barang yang bisa dicuri juga besar.

Itulah kenapa kita gak bisa menyimpulkan:

tiket mahal = gak ada copet.

Kasus sepanjang 2026 membuktikan pencopetan konser masih terjadi.

Pada konser Slank di Malang pada April 2026, polisi membongkar kelompok berisi lima pencopet. Menurut polisi, mereka bekerja secara terorganisir dengan pembagian tugas dan sengaja memanfaatkan kepadatan penonton.

Kasus lain terjadi di Purwokerto pada Februari. Polisi menangkap lima orang yang diduga datang dari Jakarta untuk beraksi di tengah konser. Dari kelompok tersebut, polisi menyita 11 ponsel.

Bahkan pada Agustus 2026, laporan kehilangan ponsel masih muncul dari Kota Serang Fair ketika penonton berdesakan saat moshing.

Jadi copet konser jelas belum punah.

Mereka masih ada. Pertanyaannya lebih menarik kalau diubah menjadi: event seperti apa yang sekarang paling menarik bagi mereka?

Harga tiket mungkin mengubah “habitat” copet

Di sinilah perubahan industri konser menjadi menarik.

Event musik Indonesia sekarang semakin tersegmentasi.

Ada konser stadion dengan tiket jutaan rupiah, festival premium, festival musik lokal, konser kampus, pesta rakyat, event pemerintah, pameran dengan panggung musik, sampai pertunjukan gratis.

Buat pelaku oportunistis, pilihan terakhir jelas menawarkan keuntungan tertentu: kerumunan besar tanpa modal tiket yang tinggi.

Buat kelompok pencopet profesional, perhitungannya mungkin berbeda. Mereka bisa saja tetap masuk event premium kalau menilai potensi hasilnya sepadan.

Kasus Purwokerto bahkan menunjukkan bahwa pencopetan konser dapat dilakukan secara terorganisir dan melibatkan pelaku yang datang dari luar daerah.

Dengan kata lain, harga tiket mungkin bukan menghilangkan pencopetan, tetapi mengubah kalkulasi targetnya.

Festival dengan tiket mahal menjadi high cost-high reward. Event gratis atau murah menjadi low cost-high volume.

Ada faktor lain yang mungkin lebih berpengaruh: keamanan makin serius

dok. Unsplash/Kouji Tsuru

Kalau memang pengalaman concertgoers menunjukkan pencopetan terasa berkurang di event tertentu, harga tiket kemungkinan cuma salah satu faktornya.

Ada perubahan lain yang jauh lebih penting: sistem keamanan venue.

Konser besar sekarang semakin umum menggunakan tiket digital, pemeriksaan barang, pembatas area berdasarkan kategori tiket, wristband, CCTV, petugas keamanan di dalam venue, hingga kontrol akses berlapis.

Teknologi investigasinya juga berkembang.

Dalam kasus pencopetan JIExpo pada Juni 2026 misalnya, polisi sampai menggunakan rekaman CCTV, digital forensic untuk melacak perangkat korban, serta teknologi pencocokan wajah untuk memburu terduga pelaku.

Bagi pencopet, ini mengubah kalkulasi risiko.

Membeli tiket mahal lalu masuk ke sebuah tempat yang dipenuhi CCTV, security dan polisi tentu berbeda dengan masuk ke kerumunan terbuka.

Ditambah lagi budaya concertgoers sendiri semakin sadar dengan masalah ini. Tas anti-maling, sling bag di depan badan, phone strap, sampai kebiasaan saling mengingatkan ketika memasuki pit sekarang semakin umum.

Media sosial juga bikin modus copet semakin dikenal

Ada efek lain yang susah diukur tetapi cukup menarik: pengalaman kehilangan barang sekarang gampang banget viral.

Begitu terjadi pencopetan massal di suatu festival, korban bisa langsung mengunggah kronologi melalui X, TikTok, Instagram, atau Threads. Pengunjung lain kemudian mengetahui titik rawan dan modus yang digunakan.

Bahkan fenomena copet festival sudah begitu melekat dalam budaya pop sampai Operasi Pesta Copet menggunakan festival musik sungguhan sebagai lokasi ceritanya. Film tersebut melakukan pengambilan gambar di Pestapora 2025 yang dihadiri puluhan ribu orang.

Jadi sekarang bukan cuma security yang belajar.

Penontonnya juga belajar.

Modus seperti menghalangi korban, sengaja membuat desakan, mengambil HP dari kantong belakang, atau mengoper barang curian kepada anggota kelompok lain semakin dikenal.

Semakin sulit korban dibuat lengah, semakin tinggi pula risiko bagi pelaku.

Jadi, apakah harga tiket mahal benar-benar bikin copet berkurang?

dok. Unsplash/Vagaro

Jawaban paling aman saat ini: bisa ikut berpengaruh, tetapi belum ada bukti bahwa itulah penyebabnya.

Saya belum menemukan statistik yang membandingkan jumlah kasus pencopetan berdasarkan harga tiket konser di Indonesia. Data kepolisian yang tersedia juga umumnya mencatat pencurian berdasarkan wilayah atau laporan kasus, bukan variabel seperti harga tiket event.

Bahkan data Pusiknas menunjukkan pencurian biasa dan ringan di wilayah Polda Metro Jaya masih menjadi persoalan. Sepanjang 1-18 Juni 2026 saja tercatat 388 kasus, naik dari 327 kasus pada periode yang sama bulan sebelumnya, meskipun angka tersebut tentu bukan khusus pencopetan konser.

Jadi terlalu jauh kalau mengatakan, “copet konser sudah berkurang karena tiket mahal.”

Yang lebih masuk akal adalah melihatnya sebagai perubahan ekosistem.

Harga tiket semakin mahal membuat biaya masuk bagi pelaku naik. Keamanan venue semakin ketat membuat risikonya naik. Penonton semakin waspada membuat aksinya semakin sulit.

Tapi di sisi lain, puluhan ribu orang yang berdesakan sambil fokus melihat panggung tetap merupakan situasi ideal untuk pencopetan.

Pada akhirnya ada ironi kecil dari industri konser Indonesia sekarang.

Dulu kita takut uang habis karena dicopet setelah masuk konser.

Sekarang uangnya sudah habis duluan pas war tiket.

Setidaknya, kalau teori ini suatu hari terbukti, kita akhirnya menemukan satu manfaat dari tiket konser Rp2 juta: bahkan copet ikut mikir, “anjir, mahal juga.”

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url