Review The Ninth Jedi: Saat Star Wars Menemukan Kembali Jiwa Space Opera-nya Lewat Anime

 

⭐4,5/5

Ada sesuatu yang cukup menarik dari The Ninth Jedi. Di saat sebagian cerita Star Wars modern sibuk mencari cara untuk terhubung dengan Skywalker Saga, serial anime ini justru melakukan hal sebaliknya: membuang hampir semua hal yang sudah kita kenal dan membangun dunianya sendiri dari nol.

Dan anehnya, justru karena itulah The Ninth Jedi terasa sangat Star Wars.

Serial produksi Production I.G. ini melanjutkan cerita dari episode The Ninth Jedi di Star Wars: Visions Volume 1, kemudian diperluas menjadi serial delapan episode. Kisahnya kembali mengikuti Lah Kara, putri seorang pembuat lightsaber bernama Lah Zhima, dalam dunia ketika Jedi dan Sith sudah lama menghilang.

Semua episode dirilis sekaligus di Disney+ dan Hulu pada 5 Agustus 2026.

Dan setelah menonton sampai selesai, menurut saya ini salah satu eksperimen Star Wars paling menarik yang pernah dibuat.

The Ninth Jedi Punya Dunia Star Wars yang Benar-Benar Baru

dok. Production I.G./The Ninth Jedi

Hal pertama yang paling terasa adalah betapa bebasnya serial ini bermain.

Tidak ada Luke Skywalker. Tidak ada Darth Vader. Tidak ada Empire, Republic, atau karakter lama yang tiba-tiba muncul hanya demi membuat penonton bernostalgia.

Cerita berlangsung di masa ketika Jedi dan Sith sudah dianggap sebagai sesuatu dari masa lalu. Lightsaber pun bukan lagi senjata yang mudah ditemukan. Justru karena itulah profesi Lah Zhima sebagai pembuat lightsaber menjadi sangat penting.

Yang lebih menarik, lightsaber dalam cerita ini punya mekanisme berbeda dari yang biasa kita kenal. Warna bilahnya ditentukan oleh hati dan koneksi penggunanya terhadap Force. Konsep sederhana ini kemudian menjadi salah satu senjata storytelling terbaik The Ninth Jedi.

Kita tidak perlu diberi tahu siapa yang baik dan siapa yang jahat. Cukup lihat warna lightsabernya. Dan serial ini tahu betul bagaimana memanfaatkan konsep tersebut untuk membuat beberapa twist yang benar-benar efektif.

Pada cerita original tahun 2021, misalnya, Kara datang ke kuil untuk mengantarkan lightsaber kepada orang-orang yang dipanggil Margrave Juro. Ketika satu per satu lightsaber dinyalakan dan semuanya berubah merah, penonton langsung sadar bahwa ada sesuatu yang sangat salah.

Mereka bukan Jedi. Mereka adalah Sith.

Itu salah satu alasan kenapa episode original tersebut begitu disukai. Dan serial barunya mengambil fondasi itu lalu memperluasnya menjadi dunia yang jauh lebih besar.

Kara Bukan Sekadar "Jedi Baru"

dok. Production I.G./The Ninth Jedi

Kekuatan terbesar serial ini tetap berada pada Kara. Menariknya, perjalanan Kara bukan sekadar cerita tentang seorang gadis yang menemukan bahwa dirinya sensitif terhadap Force lalu belajar menjadi Jedi.

Dia memulai semuanya sebagai seseorang yang ingin menemukan ayahnya. Lah Zhima menghilang setelah ditangkap pihak yang menginginkan kemampuan membuat lightsaber miliknya. Kara kemudian terseret semakin jauh ke dalam konflik yang jauh lebih besar daripada urusan keluarganya sendiri.

Dan di sinilah perkembangan karakternya terasa. Awalnya, Kara bertindak karena emosi dan hubungan personal. Dia ingin menyelamatkan ayahnya. Dia marah. Dia takut. Dia bisa kehilangan kendali.

Namun semakin jauh ceritanya berjalan, Kara mulai memahami bahwa menjadi Jedi bukan berarti membuang emosi. Justru sebaliknya.

Dia belajar menerima emosinya tanpa membiarkan emosi tersebut mengendalikan dirinya.

Ini menjadi salah satu tema utama The Ninth Jedi, terutama ketika serial mulai memperkenalkan antagonis utamanya, Nawaam.

Nawaam Menjadi Cermin yang Berlawanan dengan Kara

dok. Production I.G./The Ninth Jedi

Nawaam mungkin merupakan bagian paling menarik dari serial ini. Dia bukan tipe villain Star Wars yang sekadar bangun pagi lalu memutuskan, "Hari ini saya akan menjadi Sith." Latar belakang dan cara berpikirnya jauh lebih kompleks.

Nawaam menolak konsep terang dan gelap. Dia tidak ingin menjadi Jedi, tetapi juga tidak ingin menjadi Sith. Dia memilih apa yang bisa disebut sebagai "State of Nothingness", sebuah kondisi ketika seseorang mencoba melepaskan diri dari keterikatan emosional maupun moral.

Masalahnya?

Serial ini perlahan menunjukkan bahwa ketiadaan pilihan moral juga merupakan sebuah pilihan. Dan ketika Nawaam semakin terdesak, kita bisa melihat bagaimana prinsip yang awalnya dia yakini mulai runtuh.

Inilah yang membuat konflik Kara dan Nawaam terasa lebih menarik daripada sekadar duel lightsaber.

Mereka sebenarnya memiliki pertanyaan yang sama:

Apa sebenarnya arti menjadi Jedi?

Namun keduanya mengambil jalan yang berbeda. Kara menerima bahwa perasaan seperti cinta, takut, marah, dan kehilangan merupakan bagian dari dirinya. Nawaam justru berusaha menyingkirkannya. Dan semakin dia menyangkal emosinya, semakin dekat dia dengan sesuatu yang sebenarnya ingin dia hindari.

Pertarungan Lightsaber-nya Gila

dok. Production I.G./The Ninth Jedi

Kalau ada satu alasan lain kenapa The Ninth Jedi wajib ditonton, ya ini.

Pertarungan lightsabernya.

Production I.G benar-benar memberikan ruang untuk memamerkan kemampuan mereka. Gerakan karakter terasa cepat, tetapi tetap mudah diikuti. Duel tidak hanya berisi karakter yang saling mengayunkan lightsaber secara acak, melainkan punya koreografi yang jelas dan terasa punya bobot.

Hal ini sudah menjadi salah satu kekuatan episode originalnya. Bahkan StarWars.com sebelumnya menyoroti bagaimana adegan kejar-kejaran Kara menggunakan speeder terinspirasi dari Return of the Jedi, sementara duel dan aksinya menjadi bagian penting dalam perkembangan Kara sebagai calon Jedi.

Versi serialnya tentu punya ruang jauh lebih besar untuk melakukan hal tersebut.

Dan hasilnya? Cakep banget.

Ada beberapa duel yang benar-benar terasa seperti alasan kenapa cerita Star Wars memang cocok dibawa ke anime.

Review dari Decider juga menyoroti animasi, koreografi aksi, serta voice acting sebagai salah satu kekuatan utama serial ini. Bahkan kritik yang muncul terhadap serial ini lebih banyak berada di masalah pacing dan beberapa keputusan cerita, bukan pada kemampuan Production I.G dalam menghadirkan visual spektakuler.

Tapi Bukan Berarti The Ninth Jedi Sempurna

dok. Production I.G./The Ninth Jedi

Nah, di sini saya rasa penting untuk sedikit menurunkan ekspektasi. Karena delapan episode ini hanya memiliki total durasi sekitar dua setengah sampai tiga jam, beberapa bagian cerita terasa terlalu buru-buru. Padahal dunia yang dibangun sebenarnya punya potensi besar.

Ada banyak karakter, kelompok, planet, konflik politik, teknologi, dan sejarah baru yang menarik untuk dieksplorasi. Tetapi beberapa di antaranya terasa seperti hanya mendapatkan waktu secukupnya sebelum cerita kembali berlari menuju konflik utama.

Dua episode awal juga terasa sedikit lebih lambat dibanding bagian tengah hingga akhir. Namun setelah ceritanya mulai menemukan ritmenya, The Ninth Jedi benar-benar mulai "ngegas".

Ini juga sejalan dengan respons sebagian penonton yang merasa dua episode awal agak lemah, tetapi serialnya semakin menarik setelah memasuki bagian berikutnya. Jadi kalau episode pertama membuat kalian berpikir, "Hmm, biasa aja nih," jangan langsung menyerah.

Kasih kesempatan sampai ceritanya benar-benar terbuka.

Jadi, Apakah The Ninth Jedi Layak Ditonton?

Banget.

Bahkan menurut saya, ini salah satu cerita Star Wars yang paling berhasil menunjukkan kenapa konsep Visions sebenarnya sangat penting.

Star Wars tidak harus selalu bercerita tentang Skywalker. Tidak harus selalu ada Darth Vader. Tidak harus selalu menghubungkan semuanya dengan film atau serial lain.

Kadang, yang dibutuhkan hanyalah sebuah dunia baru, karakter baru, konflik baru, dan sebuah pertanyaan sederhana:

Apa arti menjadi Jedi?

The Ninth Jedi punya jawabannya sendiri.

Dan yang paling menarik, jawaban itu tidak terasa seperti mencoba mengubah Star Wars menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda. Sebaliknya, serial ini justru mengambil nilai paling dasar dari franchise tersebut, harapan, pilihan, keberanian, kasih sayang, dan perjuangan melawan kegelapan, kemudian membungkusnya dalam dunia baru.

Itulah kenapa serial ini terasa segar.

Bahkan secara kritis, respons awalnya juga sangat positif. The Ninth Jedi sempat mendapatkan 100% skor dari kritikus di Rotten Tomatoes berdasarkan 10 ulasan yang tercatat saat awal perilisannya.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url