Review Baby Udon, Kisah Nyatanya Sudah Cukup Kuat Tanpa Harus Terlalu Didramatisasi

⭐3,5/5

Ada risiko tersendiri ketika sebuah kisah nyata yang sudah dikenal publik diadaptasi menjadi film. Apalagi kalau kisah aslinya memang sudah menyedihkan.

Baby Udon berada di posisi tersebut.

Film garapan Fajar Bustomi ini mengangkat kisah nyata Fanny Kondoh dan mendiang suaminya, Hajime Kondoh. Caitlin Halderman dipercaya menjadi Fanny, sementara Denny Sumargo mengambil peran Hajime.

Hubungan mereka dimulai dengan manis. Fanny yang bekerja di sebuah restoran jatuh hati kepada Hajime, pria Jepang yang menjadi atasannya. Perbedaan budaya hingga agama gak menghentikan keduanya untuk membangun kehidupan bersama.

Namun, kehidupan pernikahan mereka kemudian membawa berbagai ujian. Keinginan mendapatkan buah hati membuat keduanya menjalani program bayi tabung, sementara Hajime harus menghadapi penyakit kanker.

Cerita aslinya saja sebenarnya sudah cukup untuk membuat hati sesak. Pertanyaannya, apakah Baby Udon berhasil menerjemahkan kehidupan Fanny dan Hajime menjadi sebuah film tanpa sekadar menjual kesedihan?

1. Babak awal Baby Udon justru jadi salah satu bagian paling menyenangkan

dok. LYTO Pictures

Kalau datang ke bioskop dengan bayangan bakal menangis sejak menit pertama, Baby Udon ternyata gak langsung bermain di wilayah tersebut.

Paruh awalnya justru terasa seperti film komedi romantis.

Pertemuan Fanny dan Hajime, usaha Fanny mendekati laki-laki Jepang yang membuatnya jatuh hati, sampai perbedaan bahasa dan budaya menjadi sumber berbagai situasi kocak.

Pendekatan ini cukup efektif karena memberikan kesempatan kepada penonton untuk terlebih dahulu menyukai pasangan tersebut sebelum konflik yang sebenarnya datang.

Chemistry Caitlin Halderman dan Denny Sumargo juga banyak membantu.

Hubungan mereka punya momen manis tanpa harus kehilangan sisi jenaka. Bahkan beberapa ulasan penonton menyoroti bagaimana film seolah "mengelabui" lewat komedi pada awal cerita sebelum perlahan berubah menjadi tragedi.

Masalah mulai terasa ketika Baby Udon memasuki paruh berikutnya.

Film yang tadinya ringan mendadak membawa begitu banyak persoalan sekaligus. Urusan keluarga, ekonomi, usaha memiliki anak, IVF, hingga penyakit Hajime datang bergantian.

Perubahan dari rom-com menuju melodrama tersebut sebenarnya masuk akal karena mengikuti perjalanan hidup nyata mereka. Namun, perpindahan nadanya gak selalu terasa mulus.

2. Caitlin Halderman jadi kekuatan terbesar Baby Udon

Di antara berbagai elemen film, penampilan Caitlin Halderman sebagai Fanny menjadi salah satu bagian yang paling mudah diapresiasi.

Ia harus memainkan karakter yang mengalami perubahan emosi cukup ekstrem.

Fanny yang awalnya terlihat spontan, jenaka, dan agresif mengejar laki-laki yang disukainya perlahan berubah menjadi seorang istri yang harus menghadapi tekanan rumah tangga, perjuangan mendapatkan anak, hingga mendampingi pasangan yang sakit.

Perubahan tersebut bisa dibawa Caitlin dengan meyakinkan.

Logat Semarang yang digunakannya juga mendapat perhatian positif. Alih-alih terasa seperti tempelan, aksennya membantu memberikan identitas yang lebih spesifik kepada karakter Fanny.

Hal serupa terlihat ketika cerita masuk ke wilayah yang jauh lebih berat.

Rasa lelah, frustrasi, marah, sampai kehilangan yang dialami Fanny terasa cukup natural. Beberapa review media bahkan menempatkan performa Caitlin sebagai salah satu kekuatan utama film.

Denny Sumargo juga memberikan usaha besar sebagai Hajime.

Gestur yang lebih tertahan, dialog bahasa Jepang, hingga sisi humoris Hajime membuat karakternya berbeda dari persona Denny yang biasa terlihat di media sosial.

Chemistry keduanya pun cukup meyakinkan untuk membuat perjalanan rumah tangga Fanny dan Hajime menjadi fondasi emosional film.

3. Sayangnya, Hajime terasa kalah utuh dibandingkan Fanny

dok. LYTO Pictures

Persoalan yang cukup terasa justru muncul dari cara film membangun Hajime.

Meski Baby Udon merupakan cerita mengenai kehidupan Fanny dan Hajime, sudut pandangnya jauh lebih dominan berada di sisi Fanny.

Kita mengenal Hajime terutama melalui hubungannya dengan Fanny.

Apa yang sebenarnya dipikirkan Hajime ketika menghadapi persoalan keluarga, perbedaan budaya, keinginan memiliki anak, sampai penyakitnya sendiri gak selalu mendapatkan eksplorasi yang setara.

Akibatnya, Hajime terkadang lebih terasa sebagai bagian dari perjalanan emosional Fanny daripada karakter dengan perjalanan batinnya sendiri.

Kritik serupa muncul dalam sejumlah ulasan awal film. Denny dinilai mampu memberikan penampilan emosional, tetapi materi yang diberikan kepada Hajime gak sedalam Fanny.

Padahal, memberikan perspektif lebih banyak kepada Hajime mungkin bisa membuat tragedi pada paruh akhir semakin kuat.

Penonton gak hanya kehilangan sosok yang begitu penting bagi Fanny, tetapi seseorang yang sebelumnya sudah mereka kenal secara personal.

4. Perlukah Baby Udon sedramatis ini?

Di sinilah Baby Udon kemungkinan bakal membagi pendapat penonton.

Ada review yang menilai film berhasil mengembangkan emosinya secara bertahap. Komedi dan romantika pada awal cerita membuat tragedi yang datang kemudian terasa semakin menyakitkan. Screening awal di Bandung dan Medan juga dilaporkan membuat sejumlah penonton larut dan menangis.

Respons penonton di Letterboxd pun menunjukkan hal serupa. Salah satu penonton yang menyaksikannya pada 3 September mengaku kisahnya terasa semakin sedih karena mengetahui kejadian tersebut benar-benar dialami pasangan aslinya, terutama ketika dokumentasi nyata Fanny dan Hajime diperlihatkan menjelang akhir.

Namun, ada pula masalah ketika film terlalu sering mencoba meningkatkan intensitas kesedihannya.

Kisah Fanny dan Hajime sebenarnya sudah memiliki tragedi yang begitu kuat. Film gak perlu terus-menerus mengingatkan penonton bahwa mereka harus merasa sedih.

Ketika konflik datang bertubi-tubi dan dramatisasi semakin besar, beberapa momen justru terasa seperti sengaja dibentuk untuk memancing air mata.

Layar.id bahkan memberikan nilai 6,5/10 dengan kritik bahwa film terlalu bergantung pada kekuatan kisah aslinya dan terkadang memperbesar kesedihan yang sebenarnya sudah ada secara natural.

Menariknya, justru ketika film berhenti mendramatisasi dan membiarkan realitas berbicara sendiri, emosinya terasa jauh lebih kuat.

Kehadiran dokumentasi pasangan Fanny dan Hajime asli menjadi contoh paling jelas.

Kita tiba-tiba diingatkan bahwa dua karakter yang baru saja diikuti selama hampir dua jam bukan sekadar karakter film. Semua kebahagiaan, perjuangan, dan kehilangan tersebut pernah benar-benar dialami seseorang.

Dan pada titik itulah Baby Udon gak perlu memaksa penonton untuk menangis.

5. Baby Udon tetap punya hati yang kuat

dok. LYTO Pictures

Terlepas dari kecenderungannya bermain terlalu jauh dalam melodrama, sulit mengatakan Baby Udon gak memiliki hati.

Ada sesuatu yang sangat tulus dari cerita mengenai dua orang yang terus mempertahankan harapan ketika kehidupan berkali-kali mengatakan sebaliknya.

Film ini juga gak hanya berbicara mengenai perjuangan mendapatkan anak.

Ada persoalan pernikahan lintas budaya, tanggung jawab terhadap keluarga, kondisi ekonomi, sakit, kehilangan, sampai bagaimana menerima kenyataan bahwa gak semua hal yang kita perjuangkan akan berakhir sesuai keinginan.

Fajar Bustomi menyajikannya dengan visual yang relatif sederhana. Gak ada eksperimen sinematik besar, tetapi latar Semarang dan beberapa pemandangan seperti Rawa Pening memberikan identitas tersendiri pada perjalanan pasangan tersebut.

Pada akhirnya, Baby Udon mungkin bekerja paling baik ketika ia percaya kepada cerita aslinya.

Caitlin Halderman memberikan salah satu elemen terkuat film, chemistry-nya bersama Denny Sumargo membuat hubungan Fanny-Hajime terasa hidup, dan perjalanan nyata pasangan tersebut memang punya kekuatan emosional luar biasa.

Hanya saja, semakin keras film berusaha membuat kita menangis, terkadang justru semakin terasa konstruksi dramanya.

Padahal, ketika rekaman Fanny dan Hajime asli muncul, kita sadar bahwa Baby Udon sebenarnya gak membutuhkan banyak tambahan untuk membuat hati penonton hancur.

Baby Udon sudah tayang di bioskop Indonesia sejak 3 September 2026.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url