Review Bapakmu Kiper, Sepak Bola Tarkam Absurd yang Ternyata Punya Hati

⭐3/5

Dari judulnya saja, Bapakmu Kiper sudah memberi gambaran bahwa film ini gak berniat membawa sepak bola dengan terlalu serius.

Apalagi sepak bola yang dipilih bukan liga profesional dengan stadion megah, melainkan tarkam. Pemainnya pun datang dari berbagai profesi warga kampung dengan segala keanehannya.

Namun, di balik semua kekonyolan tersebut, film garapan Ody C. Harahap ini sebenarnya menyimpan cerita sederhana mengenai hubungan seorang bapak dan anak yang telanjur renggang.

Warto (Fedi Nuril) adalah penjual ikan sekaligus mantan kiper tarkam yang punya reputasi gak begitu membanggakan. Sementara anaknya, Ronaldhino Sujatmiko alias Dino (Ali Fikry), tumbuh menjadi striker muda berbakat yang punya mimpi menjadi pesepak bola profesional.

Masalahnya, Dino menyimpan kekecewaan besar terhadap bapaknya.

Ketika kesempatan Dino mengejar mimpinya melalui Tarkam Super Cup terancam, Warto kembali ke lapangan dan membentuk tim Serigala Sakti.

Dari sinilah Bapakmu Kiper berubah menjadi campuran film olahraga, komedi kampung, sekaligus drama keluarga.

Dan anehnya, kombinasi tersebut bekerja lebih baik dari yang mungkin dibayangkan.

1. Dunia tarkam bikin Bapakmu Kiper terasa berbeda

dok. Entelekey Media Indonesia

Sepak bola Indonesia sebenarnya punya banyak cerita yang menarik untuk dibawa ke layar lebar.

Namun, Bapakmu Kiper memilih sisi yang jarang disentuh: sepak bola tarkam.

Di sini, pertandingan bukan cuma urusan mencetak gol.

Ada gengsi antarkampung, pemain dadakan, hadiah, scout yang mencari pemain berbakat, sampai kepercayaan terhadap dukun yang ikut dibawa ke pinggir lapangan.

Warto pun gak membangun tim dari kumpulan atlet profesional.

Serigala Sakti justru diisi karakter seperti Ngatiman Bengkel, Adam Hansip, Supar Kuli, Yono Copet, Yadi Dukun, sampai Jaka Bandar.

Formasi yang sudah terdengar kacau bahkan sebelum mereka menyentuh bola.

Inilah sumber kesenangan terbesar filmnya.

Bapakmu Kiper memahami bahwa sepak bola tarkam gak harus digambarkan seperti pertandingan Liga Champions. Semakin berantakan pertandingannya, justru semakin cocok dengan dunia yang ingin dibangun.

Sayangnya, film baru menggores permukaannya.

Kehidupan pemain di luar lapangan, gengsi antartim, uang yang berputar di pertandingan, sampai bagaimana tarkam menjadi jalan bagi pemain muda mengejar karier profesional sebenarnya bisa dieksplorasi lebih jauh.

Akibatnya, Serigala Sakti lebih banyak bekerja sebagai kumpulan karakter lucu daripada komunitas yang benar-benar kita kenal.

2. Pertandingannya seperti Shaolin Soccer versi tarkam

Kalau mencari pertandingan sepak bola yang realistis, Bapakmu Kiper jelas bukan filmnya.

Pendekatannya justru mendekati kartun.

Pemain melakukan aksi berlebihan, situasi pertandingan semakin absurd, Warto punya sederet blunder sebagai kiper, sampai ada unsur perdukunan yang menghasilkan salah satu rangkaian komedi paling kacau dalam film.

Ada sedikit rasa Shaolin Soccer ketika pertandingan sepak bola diperlakukan sebagai arena untuk melakukan apa pun demi sebuah lelucon.

Pilihan tersebut sebenarnya tepat.

Kalau Bapakmu Kiper mencoba terlalu realistis, kemungkinan besar identitas filmnya justru bakal hilang.

Masalahnya muncul dari sisi teknis.

Beberapa penggunaan CGI dalam pertandingan masih terlihat kasar. Penonton di sekitar lapangan juga terkadang terasa artifisial sehingga atmosfer tarkam yang seharusnya riuh malah berkurang.

Padahal, salah satu daya tarik terbesar tarkam justru keramaiannya.

Orang berdiri mepet garis lapangan, teriakan penonton, warga kampung yang ikut panas, sampai kekacauan yang membuat pertandingan terasa seperti pesta.

Film ini sudah punya energi tersebut, tetapi visualnya belum selalu mampu menjualnya secara maksimal.

3. Komedinya gak selalu kena, tapi ketika absurd justru paling lucu

dok. Entelekey Media Indonesia

Humor Bapakmu Kiper cukup campur aduk.

Ada lelucon yang terasa natural karena muncul dari karakter dan situasi pertandingan. Ada pula yang terasa seperti sengaja dimasukkan supaya sebuah adegan punya punchline.

Akibatnya, gak semua humor menghasilkan efek yang sama.

Namun, film justru paling menyenangkan ketika berani menjadi benar-benar absurd.

Salah satu contohnya adalah rangkaian kesurupan yang berhubungan dengan dunia perdukunan tarkam.

Alih-alih mencoba membuatnya masuk akal, film membiarkan para pemain bertingkah semakin gak karuan.

Begitu pula dengan Warto dan reputasinya sebagai kiper yang sering melakukan blunder.

Fedi Nuril terlihat cukup menikmati kesempatan memainkan karakter yang lebih kocak dibandingkan berbagai peran serius yang selama ini identik dengannya.

Karakter-karakter pendukung juga membantu menjaga energi film.

Mereka mungkin gak semuanya mendapatkan perkembangan karakter yang mendalam, tetapi cukup efektif membuat Serigala Sakti terasa seperti tim yang berisi bapak-bapak random yang entah bagaimana bisa berakhir bermain dalam sebuah turnamen.

Dan memang itu daya tariknya.

4. Fedi Nuril dan Ali Fikry jadi jantung filmnya

Di balik segala kekacauan pertandingan, alasan Bapakmu Kiper tetap punya sesuatu untuk diikuti adalah Warto dan Dino.

Fedi Nuril dan Ali Fikry sebelumnya sudah pernah dipertemukan sebagai bapak-anak dalam Qorin 2. Chemistry tersebut terasa kembali di sini.

Bedanya, hubungan mereka kali ini jauh lebih ringan di permukaan.

Dino menyimpan kemarahan kepada Warto karena persoalan masa lalu keluarganya. Sementara Warto bukan tipe bapak yang mampu duduk lalu menjelaskan semua perasaannya secara terbuka.

Sepak bola akhirnya menjadi bahasa yang mempertemukan mereka kembali.

Hal tersebut sebenarnya sederhana dan mudah ditebak. Kita tahu sejak awal bahwa Tarkam Super Cup pada akhirnya bukan benar-benar mengenai siapa yang menjadi juara.

Pertandingannya adalah jalan bagi bapak dan anak tersebut untuk kembali berbicara.

Namun, kesederhanaan itu justru bekerja.

Ali Fikry mampu membawa rasa kesal Dino tanpa membuat karakternya terus-menerus terasa menyebalkan. Sementara Fedi memberikan Warto kombinasi antara bapak yang konyol, penuh kekurangan, tetapi tetap berusaha melakukan sesuatu untuk anaknya.

Momen ketika judul “Bapakmu Kiper” akhirnya mendapatkan konteks emosional menjadi salah satu bagian yang paling efektif.

Kiper bukan sekadar posisi Warto di lapangan.

Ia menjadi metafora sederhana mengenai seorang bapak yang mungkin berkali-kali melakukan kesalahan, tetapi tetap berusaha berdiri di belakang anaknya dan menjaga apa yang masih bisa ia jaga.

Agak cheesy?

Iya.

Tapi tetap kena.

5. Bapakmu Kiper gak sempurna, tapi menyenangkan

dok. Entelekey Media Indonesia

Bapakmu Kiper sebenarnya punya potensi menjadi film yang lebih kaya.

Budaya tarkam bisa dieksplorasi lebih dalam. Karakter anggota Serigala Sakti bisa mendapatkan cerita lebih banyak. Beberapa lelucon bisa dipangkas. CGI pertandingan pun jelas masih membutuhkan polesan.

Namun, film ini setidaknya tahu tontonan seperti apa yang ingin dibuat.

Ia gak berusaha menjadi drama olahraga serius mengenai perjuangan atlet menuju liga profesional.

Ini adalah film mengenai bapak-bapak kampung bermain bola, melakukan hal-hal gak masuk akal, sambil perlahan membantu seorang bapak memperbaiki hubungannya dengan sang anak.

Ketika komedinya kena, Bapakmu Kiper bisa sangat menghibur.

Ketika dramanya bekerja, film mampu memberikan kehangatan yang mungkin gak disangka dari judulnya.

Dan ketika keduanya bertemu, kita mendapatkan film olahraga lokal yang punya identitas cukup berbeda dibandingkan kebanyakan film Indonesia.

Gak semuanya berhasil ditangkap dengan sempurna.

Tapi mungkin seperti Warto sendiri, Bapakmu Kiper memang bukan kiper yang selalu berhasil menangkap bola.

Kadang blunder, kadang bikin geregetan.

Tapi ketika berhasil nangkep, kena juga.

Bapakmu Kiper sudah tayang di bioskop Indonesia sejak 3 September 2026.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url